Yohanes 1:3

Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.

Jumat, Mei 01, 2009

Integritas Iman Dan Tindakan

Integritas Iman Dan Tindakan
Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
Tahun A : Minggu, 1 Juni 2008
Minggu Biasa I
Bacaan : Kej. 6:9-22; Mzm. 46; Rom. 1:16-17; Mat. 7:21-29



Kita menyadari bahwa tidaklah mudah untuk melawan suatu dosa yang terstruktur atau dosa yang telah terkondisikan. Sebab suatu dosa yang terstruktur sebenarnya merupakan hasil sistematisasi yang mampu membelokkan pola pikir, orientasi terhadap makna dan nilai kehidupan serta pilar-pilar moral sedemikian rupa sehingga akhirnya para pelakunya menyepakati dan menyetujui tindakan yang sebenarnya bertentangan dengan hati nurani, etika dan moral serta firman Tuhan. Itu sebabnya kasus korupsi di Indonesia sangat sulit diberantas sebab korupsi telah menjadi dosa struktural. Sebagai dosa struktural, tindakan melakukan korupsi telah menjadi suatu kecenderungan dan sikap mental dari anggota masyarakat dalam berbagai lapisan. Yang mana dengan kondisi tersebut, orang-orang yang semula jujur sekalipun terpaksa menyetujui tindakan yang sebenarnya tidak bermoral. Ini berarti untuk melawan suatu dosa struktural, tidaklah cukup hanya dihadapi dengan sikap polos dan jujur belaka. Karena dalam dosa struktural, para pelakunya umumnya memiliki kekuatan untuk membujuk, mempengaruhi, menekan dan memaksa orang-orang di sekitarnya untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Padahal orang-orang yang hanya bermodalkan sikap yang serba polos dan jujur belaka seringkali tidak terlalu menyadari kelicikan atau tipu-muslihat mereka. Dalam situasi masyarakat yang telah terjebak dalam dosa struktural, kita membutuhkan sebanyak mungkin orang-orang yang memiliki integritas untuk mempertahankan kejujuran, komitmen, dan keberanian untuk melakukan hal-hal yang benar.

Kisah di Kej. 6 menyaksikan keadaan manusia yang telah terjebak dalam dosa struktural. Sebagian besar umat manusia yang hidup pada zaman itu keadaannya telah rusak. Kej. 6:5-6 mengungkapkan: “Ketika dilihat Tuhan, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah Tuhan, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi dan hal itu memilukan hatiNya”. Dosa struktural bukan hanya menjebak setiap orang untuk melakukan suatu dosa secara massal atau kolektif; tetapi dosa struktural juga mampu mengembang-biakkan dosa-dosa lain sehingga mendorong setiap orang untuk melakukan berbagai dosa secara global. Itu sebabnya Kej. 6:5 menyatakan “kejahatan manusia besar di bumi”. Dalam pengertian ini makna tindakan yang jahat tidak hanya terjadi dan berlaku dalam suatu masyarakat, tetapi telah berkembang ke lingkup yang begitu luas yaitu seantero bumi. Jadi dosa struktural dalam konteks ini telah menjadi sikap mental atau batin dari tiap-tiap orang pada zaman itu, sehingga “segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”. Maka lengkaplah kini lingkup dari dosa struktural yaitu dosa yang terkondisikan dalam wilayah batin atau mental manusia, dan juga telah terkondisikan dalam berbagai aspek kehidupan pribadi serta masyarakat luas. Akibatnya setiap orang pada waktu itu makin terlibat aktif dalam berbagai dosa. Karena perilaku dosa dilakukan secara kolektif dan telah menjadi suatu budaya dalam masyarakat, maka dosa tidak lagi dianggap sebagai hal yang jahat. Makna dan nilai suatu dosa kini berubah dan dianggap suatu kebajikan. Dalam kondisi demikian, masyarakat justru menganggap tindakan yang amoral, korup dan tak terpuji sebagai suatu hal yang sepantasnya. Sehingga siapa saja yang bertentangan dengan nilai-nilai dan penghayatan masyarakat yang telah menyimpang tersebut justru akan dianggap sebagai pengkhianat. Orang yang hidup benar justru dianggap pembohong, dan orang yang jujur dianggap sebagai pembuat masalah. Demikian pula orang yang setia dan mengasihi Tuhan justru dianggap kafir. Ketika pelaku kejahatan adalah kelompok mayoritas, maka tindakan kejahatan atau kekejian akan memperoleh legitimasi secara sosial dan tidak terbantahkan. Di tengah-tengah konteks yang demikian, dapatkah kita memberlakukan prinsip “vox populi, vox Deo” (suara rakyat adalah suara Tuhan)? Kita makin disadarkan bahwa suara Tuhan ternyata tidak selalu ditentukan oleh persetujuan dan jumlah mayoritas dari masyarakat atau bangsa. Pada zaman Nuh di Kej. 6 justru suara masyarakat atau pandangan mayoritas pada waktu itu merupakan pola hidup dan keadaan riel yang “memilukan hati Allah”. Akibatnya Allah kemudian merencanakan untuk menghukum dan membinasakan umat manusia.

Apabila orang-orang pada zaman itu telah terjebak dalam dosa struktural, justru sebaliknya Nuh disebutkan sebagai seorang “tamim” (Ibr.) yang artinya: seorang yang benar dan tidak bercela. Di tengah-tengah masyarakat yang bobrok moralnya, Nuh tetap tampil sebagai seorang yang memiliki integritas diri. Nuh sama sekali tidak terpengaruh dengan pola pikir dan sikap orang-orang sezamannya. Dia mampu mempertahankan keyakinan iman, prinsip moral dan komitmen etisnya sedemikian rupa sehingga Nuh mampu hidup benar di hadapan Allah. Itu sebabnya di Kej. 6:8 disebutkan: “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan”. Walaupun Nuh adalah seorang insan pada zamannya, tetapi dia bukan produk dari orang-orang sezamannya. Kalau menurut teori “Tabula rasa” yang dikemukakan oleh John Locke (1632 –1704) dalam “An Essay Concerning Human Understanding” maka setiap orang yang lahir sebenarnya dia tidak memiliki pembawaan lahir seperti karakter, temperamen atau pola hidup tertentu. Sebab dalam pemikiran “tabula rasa” manusia ketika lahir jiwanya seperti “kertas kosong”. Tetapi dalam pertumbuhannya, manusia kemudian memperoleh pengetahuan dan pembentukan watak dari lingkungan hidupnya. Jiwa manusia yang seperti “kertas putih” tersebut kemudian diisi oleh berbagai catatan atau coretan tentang nilai-nilai yang baik atau yang buruk. Apabila lingkungan sekitar lebih banyak menanamkan hal-hal yang buruk, pastilah dia akan bertumbuh dan menjadi anak yang buruk secara moral. Tetapi teori “tabula rasa” ini ternyata tidak berlaku bagi kehidupan Nuh. Dia tidak tercemar oleh pandangan dan sikap hidup dari orang-orang di sekitarnya. Sebab Nuh lebih memilih berlaku benar dan tidak bercela (“tamim”). Karena itu pengertian “tamim” di sini jelas mencerminkan spiritualitas Nuh yang mampu mempertahankan sikap integritas imannya di hadapan Tuhan dan sesama. Sehingga demi integritasnya, Nuh berani menyatakan pendirian iman dan sikap moralnya, sehingga orang-orang di sekitarnya melihat dia sebagai orang benar dan tidak bercela. Walau untuk mempertahankan integritasnya itu, pastilah Nuh waktu itu mengalami banyak kesulitan dan kepedihan yang dalam. Bagaimana tidak? Nuh hanya seorang diri saja mempertahankan pendirian iman dan prinsip moralnya di tengah-tengah lingkungan mayoritas yang serba lalim, penuh kekerasan, amoral dan tidak mau peduli dengan kehendak Allah (Kej. 6:11). Jadi konstruksi spiritualitas yang berkualitas lebih ditentukan oleh keteguhan hati seseorang untuk berintegritas. Sehingga tidaklah tepat pada masa ini kita berbicara tentang pengaruh mayoritas dan suatu kelompok minoritas tertentu. Yang utama bukan lagi masalah kuantitas/jumlah orang, tetapi seberapa besar kualitas dan integritas seseorang atau suatu anggota masyarakat terbukti secara nyata.

Karena Nuh mampu membuktikan integritasnya di tengah-tengah orang-orang sezamannya yang telah rusak secara moral dan iman, maka Allah kemudian berkenan memakai Nuh untuk menjadi penyelamat bagi keluarganya dan mahluk hidup. Allah kemudian memerintahkan Nuh untuk membuat sebuah bahtera dari kayu gofir sebab Allah telah merencanakan untuk memusnahkan seluruh isi bumi. Ini berarti hanya orang yang memiliki integritas saja yang akan dipilih oleh Allah dalam karyaNya. Allah tidak akan pernah memilih dan memakai orang yang berwajah mendua (munafik) untuk melaksanakan karya keselamatanNya. Demikian pula Allah tidak akan memakai kita walaupun kita seorang Kristen manakala kehidupan kita penuh dengan kemunafikan, cacat secara moral dan jauh dari sikap integritas. Predikat kekristenan kita tidak secara otomatis mengubah watak, pola pikir dan kepribadian kita. Karena itu setiap orang Kristen harus mampu membuktikan integritas iman di tengah-tengah berbagai kesulitan dan tekanan hidup ini. Orang Kristen di Indonesia tidak boleh kecil hati dan merasa diri sebagai kelompok minoritas; sebab yang diutamakan dalam kehidupan ini adalah integritas dan kualitas hidup yang mampu menjadi berkat bagi banyak orang. Tetapi memang kita harus prihatin atau sedih manakala kehidupan kita tidak bermoral, penuh dengan kelicikan, bersikap munafik dan melakukan kekerasan. Sayangnya beberapa orang Kristen yang telah berada di posisi minoritas, mereka ternyata juga kerdil secara iman dan tidak memiliki integritas. Dengan kondisi rohani yang demikian, maka memang tidak ada lagi yang dapat dibanggakan. Bahkan kekristenan dengan kualitas semacam itu pada hakikatnya hanya mempermalukan dan menodai nama Tuhan Yesus Kristus. Karena itu selaku gereja Tuhan, kita harus selektif agar tidak terlalu mudah membaptis seseorang apabila kita tahu kehidupan mereka masih menjadi batu sandungan bagi orang lain. Apabila anggota jemaat kita terbukti telah melakukan berbagai hal yang tidak terpuji atau tercela, maka kita tidak boleh enggan untuk memberlakukan penggembalaan khusus kepada mereka. Tujuannya adalah agar setiap orang Kristen ditandai oleh sikap pertobatan dan kehidupan yang telah diperbaharui oleh kuasa darah salib Kristus.

Di Mat. 7:21, Tuhan Yesus berkata: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga”. Sikap orang benar memang tidak dapat dielakkan dari ungkapan doa yang selalu memanggil nama Tuhan. Panggilan kepada “nama Tuhan” merupakan ciri dari orang yang percaya khususnya ketika dia sedang berdoa. Tetapi panggilan kepada “nama Tuhan” dalam suatu ungkapan doa akan dianggap sia-sia, manakala doa tersebut tidak dilandasi oleh integritas diri. Doa yang tidak dilandasi oleh integritas diri berarti mencerminkan suatu spiritualitas yang tidak memiliki keselarasan antara kehendak, pikiran, perkataan dan perbuatan. Bagaimana mungkin suatu doa yang memanggil nama Tuhan dapat didengar dan dikabulkan Tuhan, ketika di dalam diri kita masih terjadi kontradiksi/pertentangan antara kehendak dengan pikiran, pertentangan antara perkataan dan perbuatan kita? Bagaimana mungkin Allah mau mengabulkan doa permohonan kita manakala kita tidak konsisten, sehingga sikap dan tingkah laku kita tidak selaras dengan apa yang kita ucapkan? Allah hanya mau mendengarkan dan mengabulkan doa dari umatNya yang berintegritas. Sehingga setiap umat Allah yang bersikap munafik dan hidupnya bercela tidaklah mungkin doa-doanya didengarkan, walaupun mereka terus-menerus memanggil nama Tuhan. Ini berarti prinsip integritas merupakan aspek yang utama dalam kehidupan umat percaya. Sebab sikap yang berintegritas akan menghasilkan keselarasan dan konsistensi terhadap seluruh aspek dalam kepribadian kita. Sehingga dengan integritas diri, kita dapat layak menyapa dan memanggil nama Tuhan. Karena hasil dari doa yang kita panjatkan kepada Tuhan adalah melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah.

Demkian pula Allah akan menolak umatNya ketika mereka merasa dirinya telah layak di hadapan Tuhan karena merasa telah melakukan berbagai perkara yang ajaib tetapi tidak dilandasi oleh integritas diri. Di Mat. 7:22, Tuhan Yesus berkata: “Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?” Perkataan Tuhan Yesus tersebut sesungguhnya menyentak kita. Sebab orang-orang yang tidak memiliki integritas diri ternyata dapat melakukan berbagai perbuatan ajaib seperti: bernubuat, mengusir setan dan mengadakan banyak mukjizat demi nama Tuhan. Walaupun hidup mereka tidak benar, ternyata Tuhan dalam kasus-kasus tertentu berkenan memberikan karunia tertentu. Karena itu pemberian karunia roh tersebut bukan suatu jaminan bahwa kehidupan mereka telah berkenan di hadapan Tuhan. Karunia-karunia roh dalam kehidupan umat percaya tidak ada hubungannya dengan integritas dan kualitas diri. Jadi karunia-karunia roh tidak dapat dijadikan tolok ukur untuk mengetahui seberapa tinggi integritas yang dimiliki oleh orang yang percaya. Ini berarti pula seseorang yang memiliki integritas juga tidak senantiasa harus memiliki berbagai karunia roh seperti mampu bernubuat, mengusir setan dan mengadakan banyak mukjizat. Namun yang pasti seorang yang memiliki integritas pasti mampu melakukan banyak hal yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan. Pribadi yang berintegritas pasti akan menjadi berkat bagi banyak orang sebab kehidupannya terbukti dapat menjadi contoh atau teladan, yang mana kata-katanya sangat dipercaya dan segala tingkah-lakunya tanpa cacat cela. Sebaliknya mereka yang hanya mengandalkan kepada karunia-karunia roh namun mereka mengabaikan integritas dirinya, sehingga kehidupan mereka menjadi batu sandungan; maka Tuhan Yesus akan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan” (Mat. 7:23). Jika demikian mengapa kita selaku orang Kristen sering terlalu merisaukan untuk memperoleh karunia-karunia roh, tetapi kita tidak terlalu risau dengan masalah integritas diri kita? Manakala kita senantiasa mengutamakan integritas diri, pastilah Tuhan akan memberikan karunia-karunia roh agar kehidupan kita makin menjadi berkat bagi banyak orang. Tetapi seandainya Tuhan tidak mengaruniakan karunia-karunia roh tersebut, maka integritas diri kita dianggap telah cukup untuk mempermuliakan namaNya.

Namun perlu diingat bahwa integritas diri perlu diperjuangkan selama kita masih hidup. Sebab integritas diri bukan sesuatu yang sekali jadi dan dapat bersifat terus-menerus. Seseorang dapat memiliki suatu integritas dalam kurun waktu yang cukup lama, tetapi pada akhir hidupnya dia dapat berubah menjadi pribadi yang tidak memiliki integritas diri. Dia tidak lagi mau menepati janji-janjinya. Perkataan dan perbuatannya tidak lagi selaras. Hal ini disebabkan karena integritas diri kita sangat ditentukan oleh seberapa dalam dan berkualitasnya spiritualitas yang kita miliki. Padahal spiritualitas sebagai bagian yang paling inti juga perlu senantiasa dirawat, dilatih, dikoreksi, ditempa dan diproses dalam persekutuan kita dengan Allah. Sehingga ketika spiritualitas kita mengalami masalah dan tidak berkembang dengan baik, maka integritas diri kita juga mulai goyah. Kita mulai terbawa oleh situasi dan mendengarkan perkataan atau nasihat si jahat, sehingga kemudian keputusan dan tingkah-laku kita menjadi kontra-produktif. Apabila semula kita melayani Tuhan dengan segenap hati, maka kini kasih atau kesetiaan kita mulai berubah setia dan melawan Dia dengan berbagai cara. Seorang yang menghayati integritas dirinya perlu senantiasa waspada karena spiritualitas yang kita miliki masih dapat dibelokkan atau disesatkan oleh kuasa dunia ini. Integritas diri perlu terus-menerus ditanamkan sedalam-dalamnya dengan sikap kasih dan pengajaran firman Tuhan. Sehingga apabila dia tertimpa berbagai pergumulan yang berat, kesusahan dan penderitaan; dia tetap teguh dan setia. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu” (Mat. 7:24-25).

Jika demikian integritas kita akan teruji pada saat kita mengalami berbagai tekanan, persoalan, kegagalan, perasaan kecewa dan penderitaan. Manakala kita memiliki integritas yang berkenan di hadirat Allah maka pastilah kita akan bersikap seperti Nuh. Walaupun dia hanya seorang diri di tengah-tengah lingkungan yang jahat dan rusak moralnya, Nuh tetap mampu mempertahankan kesetiaan dan kekudusan hidupnya. Nuh juga tidak membiarkan spiritualitas imannya menjadi lemah. Itu sebabnya dia terus-menerus menjaga persekutuannya dengan Allah agar si jahat tidak pernah berhasil membelokkan atau menyesatkan keputusan atau arah dari tingkah-lakunya. Ini berarti dalam integritas dirinya, Nuh akhirnya berhasil membuktikan kualitas imannya kepada Tuhan. Sehingga tepatlah apabila kepada Nuh, dinyatakan: “orang benar akan hidup oleh imannya” (Rom. 1:17). Bagaimana dengan kehidupan saudara? Apakah saudara terbukti dapat hidup seperti Nuh? Apakah kehidupan saudara ditandai oleh integritas diri ataukah kemunafikan? Namun berbahagialah kita yang mampu mempertahankan integritas diri. Karena integritas diri kita yang didasarkan dalam iman kepada Kristus akan memampukan kita untuk menjadi orang benar. Ingatlah firman Tuhan: “Orang benar akan hidup oleh imannya”. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar